Merawat Literasi

literasi
Source: instagram.com/perpusjal_bks

Merawat Literasi – 12 Januari 2019 bertempat di Pendopo Alun-alun kota Bekasi yang mana tempat ini markas dari komunitas perpusjal Riung Baca. Koloni manusia atau rakyat yang mengatasnamakan individu bukan sebagai kelompok berdatangan sejak senja waktu itu. Mesin pabrik dan tebalnya polusi kota Bekasi tidak akan membuat semangat mereka luntur, kemacetan sungguh parah untuk menuju tempat acara tidaklah menyurutkan niat mulia semata-mata ingin berkontribusi secara nyata terhadap apa yang telah diyakininya, dan apa yang sedang tidak baik-baik saja di negari yang indah nan permai ini, iya betul tentang literasi. Tujuan yang mulia, kami hanya ingin bersilaturahmi sesama penggerak literasi.

Merawat Literasi

Sejak sore kami sudah berkumpul, sembari menunggu maghrib yang kian mengambang, semakin senja berpulang malah semakin banyak yang terus berdatangan entah berapa orang yang hadir. Jika boleh dikatakan, kurang lebih sekitar 50 orang dan komunitas yang sempat teridentifikasi diantaranya: Riung Baca, Rumah Pelangi, Komite Kucing, Jabaraca, Atap Usang, Langit Tjerah, Perpusjal Gor Bekasi, Kedjora Muda dan Soebex.

Partisipan dari Riung Baca memulai dengan membaca puisi yang penuh hasrat nan menyayat dan masih dengan balutan satirnya. Disusul dari berbagai macam partisipan dari komunitas maupun individu baik pembacaan puisi, prosa, monolog, pengenalan peluncuran novel dan musikalisasi puisi. Faktanya kami merindukan masa kejayaan literasi bukan sebagai nomer urut ke-2 dari bawah. Bukankah salah satu pengarang produktif pernah tinggal di Indonesia, beliau Pramoedya Ananta Toer. Namun saat ini buku layaknya senjata yang mana menjadi target untuk disita mungkin karena pesanan bertahta.

Acara dilanjutkan dengan pengenalan program Arm Homeless oleh Komite Kucing, mereka mengenalkan dan membuka ruang pikir kita bahwasannya memberi tidak lebih baik dari menerima. Program ini memang dijalankan untuk mempersenjatai mereka yang Homeless agar lebih siap dalam menjalani hari demi harinya.

Acara ini adalah mensinergikan perpus jalanan yang ada di wilayah Bekasi dan sekitarnya. Acara intinya adalah diskusi, berbincang santai tanpa harus melempar kursi yang bertajuk “Peran Perpustakaan Dalam Sebuah Kota Urban“. Diskusi berjalan dengan antusias, peserta disediakan lembar kertas sebagai jajak pendapat mereka dan kemudian moderator akan membacakan dan mulai diskusi dengan nyaman karena sesekali kami juga melempar komedi sederhana sebagaimana mestinya sebuah keluarga. Keluh kesah dan saran terus dilontarkan. Ada pula yang memuji atas apa yang telah dan yang sedang kami jalankan menjadikan vitamin bagi kami untuk terus menjalani apa yang telah kami yakini terhadap literasi ini.

Air langit jatuh dengan gemulainya, membuat pengunjung Alun-alun berbondong-bondong memenuhi pendopo. Riuh sesak manusia membuat diskusi segera kami akhiri dan semoga setiap individu bisa menuai apa yang telah dituangkan saat malam itu dan bisa pulang membawa harapan baru bahwasanya literasi tidak hanya sampai sini, bahwa literasi tidak hanya sampai insta story. Dengan bersinergilah kita dapat menyediakan tempat untuk menampung wawasan dan pemikiran yang beragam di dalam otak kita agar tidak dungu terhadap adu domba antar umat manusia, dan mengembalikan manusia yang berkemanusiaan.

Penutupan diserahkan kepada komunitas Kedjora Muda. Mereka mengenalkan pengolahan sampah untuk dijadikan hasil karya sederhana. Sebagai contoh mereka membawa hasil karya diantaranya vas bunga dan celengan berbentuk plastik yang bahan bakunya terbuat dari sampah botol plastik. Penutup yang bermanfaat untuk kami yang masih acuh terhadap pemanfaatan sampah. Kita lebih sering mengumpat terhadap sampah dan enggan untuk menjadikan agar bermanfaat. Sayonara.

Bekasi, 15 Januari 2019

Penulis : Agi Suci Nur Indra | @agikgori | Terlahir Rembulan dan Tumbuh dengan Bebas!
Editor : taubanyak.com
Images credit : @perpusjal_bks 

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *